THEREPUBLIKA.ID, Berlin — Partai sayap kanan Jerman, Alternative für Deutschland (AfD), memberikan respons positif terhadap analisis pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang menyebut Eropa tengah menghadapi “penghapusan peradaban”. Pernyataan itu disampaikan setelah strategi keamanan nasional terbaru AS menyoroti migrasi dan integrasi Uni Eropa sebagai ancaman bagi identitas budaya Eropa.
Juru bicara kebijakan luar negeri AfD, Markus Frohnmaier, menyatakan bahwa partainya mendukung upaya “kebangkitan konservatif” di Eropa. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya akan bertemu dengan kelompok Make America Great Again (MAGA) dalam kunjungannya ke Washington dan New York pekan ini.
“AfD berjuang bersama teman-teman internasional untuk sebuah renaisans konservatif,” ujar Frohnmaier kepada AFP.
Ia menambahkan bahwa AfD tengah membangun kemitraan dengan kekuatan politik yang mengutamakan kedaulatan nasional, identitas budaya, serta kebijakan keamanan dan migrasi yang “realistis”.
Frohnmaier dijadwalkan menjadi tamu kehormatan dalam gala tahunan New York City Young Republican Club, kelompok yang sebelumnya sempat menuai kontroversi setelah anggota dalam grup percakapannya kedapatan memuji Adolf Hitler, menurut laporan Politico.
Dalam dokumen strategi keamanan nasional terbaru, pemerintahan Trump mengeklaim sejumlah negara Uni Eropa berisiko menjadi “mayoritas non-Eropa” dalam beberapa dekade mendatang. Dokumen tersebut menuduh Uni Eropa melemahkan kebebasan politik, membatasi kebebasan berpendapat, dan menekan oposisi.
AS menyatakan kebijakannya terhadap Eropa akan fokus pada “membangun resistensi terhadap arah Eropa saat ini dari dalam negara-negara Eropa sendiri”, seraya memuji meningkatnya pengaruh partai-partai nasionalis sebagai “tanda optimisme besar”.
Trump sendiri mempertegas sikap tersebut dalam wawancara terpisah, menyebut Eropa “lemah” dan “membusuk”, serta mengeklaim bahwa benua itu “menghancurkan diri sendiri” melalui kebijakan imigrasi.
AfD memang dikenal aktif menjalin hubungan politik dengan lingkaran Trump. Beberapa tokoh partai bahkan sudah menghadiri inaugurasi Trump, sedangkan miliarder teknologi Elon Musk yang menjadi donor besar Trump disebut mendukung kampanye kandidat AfD, Alice Weidel, menjelang pemilu Jerman.
Bulan lalu, anggota Kongres AS Anna Paulina Luna mengatakan bahwa ia akan menerima kunjungan sekitar 40 politisi AfD ke Amerika Serikat.
Namun, pendekatan agresif AfD terhadap MAGA tidak diikuti partai nasionalis besar lainnya di Eropa.
Partai seperti National Rally (RN) di Prancis dan Vox di Spanyol tetap kritis terhadap kebijakan AS meskipun memiliki kesamaan ideologi terkait imigrasi dan sentimen anti-Uni Eropa.
Polling menunjukkan bahwa Trump sangat tidak populer di Eropa, termasuk di kalangan sebagian pemilih kanan jauh, sehingga partai-partai tersebut berhati-hati dalam memperlihatkan kedekatan langsung.
Pemerintahan konservatif di Hungaria yang dipimpin Viktor Orbán sering disebut kekuatan nasionalis paling keras dalam Uni Eropa memilih tidak mengomentari langsung strategi AS. Namun, Menteri Luar Negeri Péter Szijjártó menyebut Hungaria sedang bekerja untuk “revolusi patriotik membuat Eropa hebat kembali”.
Sementara itu, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, meski dikenal bersimpati pada nilai-nilai MAGA, hanya mengatakan bahwa dirinya “tidak melihat adanya keretakan” dalam hubungan transatlantik.
Ketua RN Prancis, Jordan Bardella, menekankan bahwa meskipun sejalan dengan kekhawatiran Trump soal imigrasi, Prancis tetap harus menentukan jalannya sendiri.
“Saya orang Prancis. Saya tidak senang dengan konsep vassal. Saya tidak butuh kakak besar seperti Trump untuk menentukan masa depan negara saya,” katanya kepada Daily Telegraph.
Kepada BBC, Bardella juga mengakui bahwa imigrasi massal memengaruhi keseimbangan kekuatan sosial di Eropa, namun tetap mempertahankan jarak politik dari MAGA. Ia bahkan pernah menuduh AS melakukan “perang ekonomi” terhadap Eropa.
Para analis menyebutkan bahwa terdapat dilema yang tidak mudah bagi kubu nasionalis Eropa: meskipun sejalan secara ideologis dengan beberapa gagasan MAGA, mereka terikat pada prinsip dasar “negara saya yang pertama”, yang secara otomatis bertentangan dengan prioritas “America First” milik Trump.
Karena itu, meski AfD menyambut baik dorongan dari Washington, partai-partai nasionalis besar lainnya memilih langkah lebih hati-hati demi menjaga stabilitas dukungan di dalam negeri dan menghindari persepsi sebagai perpanjangan tangan kepentingan Amerika.


Komentar