THEREPUBLIKA.ID, JAKARTA — Upaya damai untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina memasuki titik krusial. Para pemimpin negara yang tergabung dalam coalition of the willing dijadwalkan menggelar panggilan video pada Kamis waktu setempat, di tengah tekanan kuat dari Amerika Serikat agar kesepakatan damai bisa segera tercapai.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengatakan pihaknya telah menyerahkan draf revisi rencana perdamaian kepada negosiator AS pada Rabu. Draf itu akan menjadi bahan utama dalam pertemuan virtual yang melibatkan sekitar 30 negara pendukung Ukraina.
Zelenskyy dipastikan ikut dalam panggilan tersebut bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz. Keempatnya sebelumnya mengadakan pertemuan khusus di Downing Street pada Senin lalu.
“Pekan ini mungkin membawa kabar penting bagi kita semua,” tulis Zelenskyy di X. “Pertanyaan kuncinya adalah bagaimana menghentikan Rusia melakukan pembunuhan, dan apa yang dapat mencegah invasi ketiga.”
Pertemuan Kamis digelar sehari setelah Starmer, Macron, dan Merz berbicara langsung dengan Presiden AS Donald Trump. Ketiganya menilai situasi saat ini sebagai “momen kritis”. Washington sedang mendorong paket perdamaian yang dinilai sejumlah negara Eropa terlalu menguntungkan Rusia.
Trump kembali menekan Zelenskyy pekan ini, bahkan menuding presiden Ukraina itu belum membaca draf perdamaian yang diajukannya. “Rusia baik-baik saja dengan proposal itu, tapi saya tidak yakin Zelenskyy setuju,” ujar Trump.
Sejumlah pejabat Rusia memuji upaya diplomasi tim Trump. Pekan lalu, Vladimir Putin menerima utusan Gedung Putih, Steve Witkoff dan Jared Kushner, selama lima jam di Kremlin. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menyebut Trump satu-satunya pemimpin Barat yang memahami “akar penyebab perang”.
Namun para pengamat menilai tidak ada tanda Rusia bersedia menandatangani kesepakatan, bahkan dengan syarat yang disukai Kremlin — termasuk penyerahan penuh wilayah Donbas oleh Ukraina.
Zelenskyy juga menghadapi tekanan di dalam negeri. Ia baru memecat Kepala Staf Kepresidenan, Andriy Yermak, setelah skandal korupsi mengguncang lingkaran dalam pemerintah.
Trump kemudian memperkeruh keadaan dengan mendesak Ukraina menggelar pemilu, dan menyebut Zelenskyy mungkin tidak akan menang. Padahal, pemilu selama masa darurat militer jelas dilarang dan dianggap akan menguntungkan Rusia.
Merasa terpojok, Zelenskyy menyatakan kesiapannya mengadakan pemilu jika keamanan dapat dijamin oleh AS dan negara-negara Eropa. “Saya meminta Amerika Serikat membantu memastikan keamanan pemilu, dan dalam 60 hingga 90 hari Ukraina siap melaksanakannya,” kata Zelenskyy.
Sementara itu, pertempuran sengit terus berlangsung. Pada Rabu, Rusia melancarkan serangan besar ke kota Pokrovsk dan Myrnohrad, Donetsk.
Militer Ukraina menyebut Rusia menggunakan “kendaraan lapis baja, mobil, hingga sepeda motor” untuk menggempur Pokrovsk bagian utara. Rusia mengklaim telah menguasai seluruh kota, namun Kyiv menegaskan masih menahan sebagian wilayah.
Di Myrnohrad, Rusia menguasai 30 persen area kota. Putin telah memerintahkan pasukannya menuntaskan perebutan kota tersebut. “Pertempuran jalanan sedang berlangsung. Itu neraka,” ujar seorang sumber militer Ukraina yang baru kembali dari Myrnohrad.


Komentar