THEREPUBLIKA.ID, BRUSSELS — Uni Eropa (UE) telah menyetujui perjanjian perdagangan bebas terbesar dengan blok Mercosur yang meliputi Argentina, Brasil, Paraguay, dan Uruguay, mengakhiri 25 tahun negosiasi yang panjang. Kesepakatan ini disambut dengan protes dari petani dan aktivis lingkungan di beberapa negara anggota, termasuk Prancis, Polandia, Yunani, dan Belgia, yang memblokir jalan-jalan utama sebagai bentuk penolakan.
Perjanjian yang disepakati secara prinsip pada Jumat lalu ini memicu reaksi politik di Prancis, di mana partai-partai oposisi dari kiri dan kanan ekstrem memanfaatkan isu ini untuk mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintah Presiden Emmanuel Macron.
Proses persetujuan di tingkat negara anggota berlangsung alot, dengan beberapa negara menentang atau abstain: Prancis, Polandia, Austria, Irlandia, dan Hungaria menolak, sementara Belgia abstain. Italia, yang sebelumnya menjadi kunci dalam negosiasi, akhirnya mendukung kesepakatan, memungkinkan adopsi perjanjian melalui aturan mayoritas berkualifikasi.
Selanjutnya, Parlemen Eropa harus menyetujui perjanjian ini agar resmi berlaku. Namun karena urusan perdagangan termasuk wewenang eksklusif Komisi Eropa, Ketua Komisi Ursula von der Leyen dijadwalkan mengunjungi Paraguay pada Senin mendatang untuk menandatangani perjanjian secara formal. Von der Leyen menegaskan bahwa UE akan memperkuat pengawasan impor untuk memastikan standar produk pertanian, termasuk daging, tetap dipenuhi.
Para pendukung perjanjian menilai kesepakatan ini akan memperdalam kerja sama ekonomi UE dengan negara-negara Amerika Latin dan mengurangi ketergantungan UE pada China untuk mineral kritis dan tanah jarang yang penting bagi industri otomotif dan teknologi. Brasil, misalnya, memiliki cadangan 20% global grafit, nikel, mangan, dan tanah jarang, serta 94% cadangan niobium yang digunakan di industri dirgantara. Argentina merupakan produsen lithium terbesar ketiga dunia, bahan penting untuk baterai kendaraan listrik.
“Perjanjian ini bukan sekadar soal ekonomi. Amerika Latin adalah wilayah persaingan pengaruh antara negara Barat dan China. Gagal menandatangani kesepakatan ini berisiko mendorong ekonomi Amerika Latin lebih dekat ke Beijing,” ujar Agathe Demarais, peneliti senior di European Council on Foreign Relations. Ia menambahkan, kesepakatan ini juga menunjukkan keseriusan UE untuk mendiversifikasi pasar ekspor selain dari AS.
Namun, petani di sektor daging sapi, unggas, dan gandum menganggap mereka menjadi pihak yang dirugikan. “Ini akan menghancurkan pertanian kami di Polandia,” kata Janusz Sampolski, seorang petani, kepada Agence France-Presse. Ia khawatir ketergantungan pada rantai pasok asing bisa mengancam ketahanan pangan Polandia di tengah potensi konflik.
Kelompok lingkungan Climate Action Network juga mengkritik perjanjian ini, menyatakan bahwa perjanjian tidak hanya tentang tarif dan kuota, tetapi berpotensi mendorong deforestasi serta memperburuk kondisi hak asasi manusia di kawasan hutan sensitif dunia, karena insentif untuk meningkatkan produksi daging sapi, kedelai, dan kayu untuk industri pulp.
Kesepakatan ini terjadi di tengah upaya UE membangun aliansi baru pasca gangguan perdagangan internasional yang ditimbulkan oleh kebijakan Donald Trump.


Komentar