THEREPUBLIKA.ID, LABUAN BAJO — Operasi pencarian korban kapal wisata KM Putri Sakinah yang tenggelam di perairan Pulau Padar, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus berlanjut meski menghadapi tantangan teknis dan kondisi perairan yang sulit. Kapal yang membawa enam warga negara Spanyol dan lima WNI itu tenggelam pada Jumat (26/12/2025) malam.
Menurut Budi Widjaja, Ketua DPC Gabungan Wisata Bahari dan Tirta Indonesia (Gahawisri), sinyal ponsel milik salah satu korban, Fernando Martin Carreras, sempat terdeteksi di sekitar utara dan selatan Pulau Padar, Batu Tiga, Taka Makasar, hingga mendekati Nusa Kode. Informasi itu diperoleh melalui koordinasi dengan Interpol dan pihak keluarga korban, yang mencoba mengirim pesan melalui SMS atau WhatsApp ke ponsel Fernando setelah insiden.
Keluarga Terlibat dalam Pencarian
Wakil Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, Fernando Burgos Sainz, bersama perwakilan keluarga, turut memantau operasi pencarian di Labuan Bajo, Jumat (02/01). Sejak awal, keluarga meminta untuk ikut langsung dalam pencarian, namun baru diizinkan naik kapal pencari setelah pertimbangan psikologis. Tim SAR memberi penjelasan tentang strategi pencarian, termasuk penggunaan teknologi Multi Beam-sonar yang mampu menembus kedalaman hingga 180 meter.
Budi menjelaskan, penggunaan teknologi sonar dilakukan karena sinyal ponsel korban berpindah-pindah. Data koordinat yang dikirim oleh Interpol dan Kementerian Komunikasi Digital menjadi acuan untuk mengarahkan titik pencarian ke area terdekat menara telepon.
Kronologi dan Tantangan Pencarian
KM Putri Sakinah mengangkut 11 orang, terdiri dari empat ABK dan tujuh penumpang, termasuk Fernando Martin, istrinya, dan empat anaknya. Istri dan satu anak selamat, sementara Fernando dan tiga anak lainnya hilang.
- Senin (29/12), tim SAR menemukan satu jenazah perempuan WN Spanyol di perairan utara Pulau Serai.
- Minggu (04/01), ditemukan jenazah Fernando Martin Carreras sekitar 2 km dari lokasi dugaan kapal tenggelam.
- Selasa (06/01), jenazah seorang anak laki-laki, putra Fernando, ditemukan di sekitar bangkai kapal di perairan Pedde, Pulau Komodo.
Karakter perairan di sekitar Pulau Padar yang memiliki arus kuat dan berubah-ubah, serta kontur laut yang banyak pulau kecil, membuat area pencarian terus diperluas. Arus laut dapat membawa objek terapung menjauh dari titik awal kapal tenggelam, dan perubahan cuaca yang cepat menambah risiko.
Cuaca di Hari Kecelakaan
Pada Jumat pagi (26/12), cuaca di Labuan Bajo terlihat cerah berawan. Namun, BMKG sebelumnya sudah memperingatkan potensi badai di selatan. Sekitar pukul 20.30 WITA, kapal sempat dihantam gelombang tinggi hingga empat kali sebelum insiden tenggelam terjadi. BMKG telah mengeluarkan Notice to Mariner terkait peringatan cuaca, namun sensor di perairan Komodo terbatas sehingga akurasi data arus dan fenomena kala-kala masih rendah.
Benang Kusut Ekosistem Pariwisata Labuan Bajo
Budi Widjaja menggambarkan ekosistem pariwisata Labuan Bajo sebagai “benang kusut” yang melibatkan wisatawan, pelaku usaha, dan regulator. Banyak nelayan beralih menjadi pemandu wisata, membangun kapal tradisional dengan biaya tinggi, sementara peralatan keselamatan sebagian besar masih impor. Kapal wisata diperiksa secara berkala oleh KSOP dan patroli gabungan TNI-Polri, namun jumlah petugas masih terbatas dibandingkan jumlah kapal yang beroperasi setiap hari.
Pihak keluarga korban menekankan pentingnya keselamatan sebagai tanggung jawab bersama. Wisatawan diminta memastikan informasi destinasi, rute kapal, dan potensi risiko cuaca sebelum berlayar. Kementerian Pariwisata menyatakan berkomitmen memperkuat koordinasi lintas sektor dan memastikan keselamatan wisatawan menjadi prioritas.
Penegakan Hukum
Polda NTT telah menetapkan dua tersangka terkait tenggelamnya KM Putri Sakinah: nakhoda kapal berinisial L dan kepala kamar mesin berinisial M, dijerat dengan pasal kelalaian yang mengakibatkan kematian orang lain. Penanganan kasus ini ditegaskan akan dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel.
Kecelakaan KM Putri Sakinah menyoroti perlunya perbaikan sistem keselamatan di Labuan Bajo agar destinasi prioritas pariwisata ini tetap aman dan kepercayaan wisatawan tidak terganggu.


Komentar