THEREPUBLIKA.ID, JAKARTA – Dunia riset Indonesia kembali menyoroti peran penting ilmuwan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Salah satunya adalah Joko Widodo, Ph.D., yang baru-baru ini ditunjuk sebagai Ketua Task Force Penanggulangan Bencana di Sumatra mulai tahun 2025.
Penunjukan ini strategis, mengingat kompetensi utama Joko Widodo berada di bidang Microwave Remote Sensing dan Synthetic Aperture Radar (SAR), teknologi yang sangat vital dalam pemetaan dan penanganan dampak bencana.
Joko Widodo adalah alumnus S3 dari Chiba University, Jepang, yang lulus pada tahun 2020 dengan spesialisasi Microwave Remote Sensing Synthetic Aperture Radar.
Keahlian beliau dalam radar interferometrik sangat membantu dalam analisis citra satelit untuk memantau situasi pasca-bencana, seperti yang pernah dilakukannya untuk memetakan dampak banjir di Aceh dan Sumatera Utara.
Sebagai Ketua Kelompok Riset Geovisualisasi dan Infrastruktur Geoinformatika BRIN sejak 2024, serta Researcher di Indonesia Synthetic Aperture Radar Information Center (INASAR) sejak 2002, Joko Widodo memiliki rekam jejak panjang dalam pemanfaatan teknologi geospasial.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Task Force Penanggulangan Bencana di Sumatra (2025-sekarang), ia bertanggung jawab memimpin gugus tugas BRIN untuk memastikan penanganan bencana di wilayah tersebut didukung oleh data riset dan inovasi teknologi terkini. Sumatra, yang rentan terhadap bencana seperti banjir dan longsor, akan sangat bergantung pada analisis spasial dan data cepat yang disediakan oleh tim di bawah kepemimpinan beliau.
Dengan latar belakang pendidikan yang juga meliputi Ilmu Lingkungan dari Universitas Indonesia (2011) dan Geografi dari Universitas Gadjah Mada (1999), kombinasi ilmu pengetahuan alam dan teknologi canggih ini menempatkan Joko Widodo sebagai figur kunci dalam upaya BRIN membangun ketahanan bencana nasional.


Komentar