THEREPUBLIKA.ID, JAKARTA, – Respons cepat Partai Gerindra terhadap kritik publik kembali mendapat apresiasi luas. Langkah Sekretaris Jenderal Gerindra, Sugiono, yang memerintahkan pencopotan atribut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 partai karena dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat, dianggap sebagai wujud kedewasaan politik partai penguasa.
Sikap tersebut dinilai mencerminkan perubahan pola komunikasi politik, di mana partai tidak lagi menutup telinga terhadap kritik, termasuk yang bernada tajam di media sosial. Kepekaan terhadap ruang publik menjadi simbol bahwa kekuasaan tidak membuat elite kehilangan empati terhadap aspirasi warga.
Di tengah dominasi kekuasaan, keterbukaan terhadap masukan publik menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan. Gerindra dinilai mulai mematahkan pola “ruang kedap suara” yang kerap membuat elite terputus dari realitas lapangan.
“Dukungan masyarakat terhadap langkah Mas Sugiono menunjukkan bahwa publik merindukan pemimpin yang tidak antikritik, apalagi dalam hal yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari,” ujar pegiat sosial,!Romadhon Jasn, Sabtu (7/2/2026).
Fenomena ini juga menjadi refleksi bagi partai lain yang kerap kehilangan sensitivitas setelah berkuasa. Konsistensi antara sikap kritis saat oposisi dan tanggung jawab saat memegang kekuasaan dinilai sebagai ukuran integritas politik.
Menurut Romadhon, figur-figur muda di Gerindra tengah membangun standar baru dalam berpolitik. “Mendengar keluhan publik bukan lagi dianggap sebagai kelemahan, tetapi sebagai kemenangan moral atas arogansi kekuasaan,” katanya.
Gaya kepemimpinan tersebut diharapkan meresap hingga ke tingkat daerah. Instruksi penertiban atribut partai bukan sekadar urusan teknis, melainkan pesan ideologis bahwa wajah partai tercermin dari perilaku kader di ruang publik.
“Respon cepat terhadap kritik adalah investasi jangka panjang untuk menjaga relevansi partai di mata generasi muda,” tegas Romadhon.
Penguatan budaya responsif ini juga tercermin dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-18 Partai Gerindra. Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Presiden RI, Prabowo Subianto, mengumpulkan jajaran pengurus inti dalam perayaan sederhana di kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta, Jumat (6/2/2026) malam.
Ketua Harian Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, mengatakan perayaan tersebut digelar secara internal dan hanya dihadiri jajaran inti partai. Momentum itu dimanfaatkan untuk konsolidasi dan refleksi perjalanan partai selama 18 tahun.
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menekankan pentingnya menjaga kedekatan dengan rakyat serta menjadikan kritik publik sebagai bahan evaluasi. Sikap tersebut dinilai menjadi teladan bagi seluruh kader.
Romadhon menilai, kepedulian Presiden terhadap aspirasi rakyat membuat publik semakin optimistis terhadap masa depan politik Gerindra. “Ini contoh kepemimpinan yang membumi. Presiden memberi teladan langsung, bukan sekadar instruksi,” ujarnya.
Secara keseluruhan, respons cepat terhadap kritik, peringatan HUT yang sederhana, serta arahan langsung Ketua Umum menunjukkan upaya serius Gerindra membangun politik yang lebih inklusif dan beretika. Langkah ini dinilai memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap partai ke depan.


Komentar