THEREPUBLIKA.ID, KARAKAS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah operasi militer yang digelar sebelum fajar di Caracas dan wilayah sekitarnya. Pasangan tersebut disebut langsung diterbangkan keluar dari Venezuela.
“Itu operasi yang brilian,” ujar Trump kepada The New York Times, menyusul laporan sejumlah ledakan yang mengguncang ibu kota Venezuela. Trump memuji perencanaan operasi tersebut serta kinerja pasukan elit Amerika Serikat yang terlibat.
Jaksa Agung AS Pam Bondi menyatakan Maduro dan Flores akan dihadapkan ke pengadilan Amerika Serikat berdasarkan dakwaan pidana yang dikeluarkan di New York pada 2020. Dalam unggahan media sosial, Bondi menegaskan keduanya akan “menghadapi sepenuhnya keadilan Amerika di pengadilan Amerika”.
Namun, hingga kini tidak ada kejelasan mengenai dasar hukum dan konstitusional atas operasi militer tersebut, termasuk penangkapan dan rencana pengadilan terhadap kepala negara berdaulat. Belum diketahui pula apakah Trump telah berkonsultasi atau memberi pemberitahuan kepada Kongres AS sebelum melancarkan serangan, sebagaimana diwajibkan dalam ketentuan konstitusi terkait penggunaan kekuatan militer.
Melalui media sosial, Trump mengonfirmasi bahwa pasukan AS melancarkan “serangan skala besar terhadap Venezuela” dan menjanjikan penjelasan lanjutan dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida. Media AS melaporkan bahwa Maduro diduga ditangkap oleh unit elite Delta Force, pasukan yang sebelumnya terlibat dalam operasi penewasan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi pada 2019.
Reaksi Internasional Menguat
Serangan AS dan penangkapan paksa terhadap Presiden Venezuela memicu kejut dan kecaman luas dari komunitas internasional. Pemerintah Kolombia mengecam keras aksi tersebut dan menyerukan sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Bogotá juga menyatakan tengah bersiap menghadapi potensi gelombang besar pengungsi dari Venezuela.
Pelapor Khusus PBB untuk hak asasi manusia dan kontra-terorisme, Ben Saul, menyebut tindakan AS sebagai agresi ilegal dan mendesak penyelidikan terhadap Presiden Trump.
“Saya mengutuk agresi ilegal AS terhadap Venezuela serta penculikan terhadap pemimpinnya dan istrinya. Setiap nyawa warga Venezuela yang hilang merupakan pelanggaran hak untuk hidup,” tegas Saul.
Situasi di Dalam Negeri Venezuela
Di Caracas, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez tampil di televisi nasional dan mengonfirmasi bahwa Maduro dan Flores telah ditangkap, meski ia mengaku tidak mengetahui keberadaan mereka. Rodríguez menuntut “bukti kehidupan” atas pasangan tersebut dan menuduh AS melakukan pembunuhan terhadap warga sipil yang tidak bersalah.
“Saat ini Venezuela tetap tenang, namun sedang mencerna makna dari agresi militer sebesar ini,” ujar Rodríguez dalam wawancara singkat via telepon.
Ketidakjelasan kepemimpinan nasional pun muncul menyusul penangkapan Maduro. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello tampil di televisi pemerintah dengan rompi antipeluru dan helm taktis, didampingi aparat keamanan, menegaskan situasi negara masih terkendali.
“Angkatan bersenjata, kepolisian, dan rakyat siap menghadapi segala kemungkinan serta setiap upaya lanjutan dari serangan pengecut terhadap negara dan rakyat kami,” kata Cabello.
Serangan ke Instalasi Strategis
Saksi mata melaporkan asap membumbung dari sejumlah instalasi militer utama di Caracas, termasuk Pangkalan Udara La Carlota dan kompleks militer Fuerte Tiuna, yang selama ini diyakini sebagai salah satu lokasi tempat tinggal Maduro. Bandara Higuerote di timur Caracas juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Pemerintah Venezuela menuduh AS menyerang target sipil dan militer, termasuk gedung Majelis Nasional bersejarah di Caracas, pangkalan udara di Barquisimeto, serta Cuartel de la Montaña—markas militer yang menjadi lokasi makam mendiang Hugo Chávez, tokoh sentral gerakan Chavismo.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “terorisme negara” terhadap Venezuela. Ia memperingatkan bahwa kawasan Amerika Latin sedang menghadapi agresi brutal yang dapat memicu instabilitas regional.
Dalam pernyataan resminya, pemerintah Venezuela menyerukan rakyat untuk bangkit melawan serangan tersebut dan memperingatkan bahwa tindakan Washington berisiko menyeret Amerika Latin ke dalam kekacauan besar akibat “agresi militer yang sangat serius”.


Komentar