THEREPUBLIKA.ID, JAKARTA- PT Aneka Tambang Tbk (Antam) memasuki awal 2026 dengan sorotan yang sangat tajam. Di satu sisi, perusahaan pelat merah ini berhasil membukukan lonjakan laba bersih fantastis hingga Rp7,89 triliun atau tumbuh 197 persen secara tahunan (year on year). Namun di sisi lain, publik dan kalangan ekonom masih mempertanyakan apakah kilau angka tersebut benar-benar mencerminkan perbaikan fundamental, atau sekadar hasil polesan neraca di tengah tantangan tata kelola yang belum sepenuhnya tuntas.
Gagas Nusantara memandang gelombang kritik yang muncul bukan sebagai upaya menjatuhkan, melainkan sebagai bentuk “cinta yang menuntut” agar Antam tumbuh menjadi aset bangsa yang paripurna. Manajemen baru diharapkan melihat kritik sebagai navigasi strategis untuk melakukan rekonsiliasi moral secara menyeluruh. Laba yang mentereng tidak boleh berhenti sebagai pencapaian angka, tetapi harus dibuktikan sebagai hasil dari sistem yang bersih dan akuntabel.
Langkah korporasi Antam melalui alokasi belanja modal (capex) hingga Rp7 triliun untuk hilirisasi nikel dinilai sangat strategis bagi kedaulatan industri hijau nasional. Kebijakan ini menempatkan Indonesia dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik. Namun, Gagas Nusantara menilai, visi besar tersebut hanya akan berhasil jika didukung kepercayaan publik yang kuat, sehingga setiap komoditas yang dihasilkan memiliki legitimasi moral di mata rakyat.
“Laba triliunan adalah prestasi teknokratis yang patut diapresiasi, tetapi menjaga kepercayaan 270 juta rakyat adalah tugas ideologis yang jauh lebih mulia. Antam tidak perlu alergi terhadap kritik, karena kritik itulah yang akan menguatkan mereka,” tegas Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, kepada awak Media, Selasa (17/2/2026) di Jakarta.
Di pasar modal, saham ANTM yang sempat menyentuh level Rp4.050 mencerminkan optimisme investor terhadap fundamental perusahaan. Namun bagi masyarakat ritel yang menabung emas, persoalan selisih harga jual-beli (spread) masih menjadi kegelisahan nyata. Dalam posisi sebagai BUMN, Antam memikul peran ganda: mesin pencetak dividen sekaligus pelindung nilai tabungan masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Hilirisasi adalah kunci masa depan, tetapi transparansi adalah kunci hari ini. Kita tidak ingin proyek besar berjalan tanpa pengawasan. Setiap alur distribusi harus bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka,” ujar Romadhon Jasn.
Menjawab keraguan mengenai keberlanjutan laba, Gagas Nusantara menilai Antam memiliki modal kuat jika mampu menyeimbangkan ambisi komersial dengan tanggung jawab sosial. Tuduhan “poles neraca” hanya bisa dipatahkan melalui efisiensi operasional, kepatuhan hukum, dan konsistensi integritas tanpa kompromi. Inilah momen bagi Antam untuk menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar perusahaan tambang, melainkan penjaga marwah kedaulatan sumber daya nasional.
“Kedaulatan emas dimulai dari rasa aman masyarakat saat memegangnya. Jika publik yakin bahwa setiap gram diproduksi secara etis, maka Antam telah memenangkan pertempuran opini tanpa perlu banyak bersolek,” tambah Romadhon.
Langkah manajemen dalam memperkuat digitalisasi dan sistem pengawasan juga dinilai sebagai upaya menutup celah-celah masa lalu. Gagas Nusantara mendorong penguatan audit independen bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memberi jaminan keamanan bagi seluruh pemangku kepentingan. Dengan keterbukaan, Antam berpeluang berubah dari objek kritik menjadi teladan transformasi BUMN.
“Audit bukan ancaman bagi yang jujur, melainkan perisai bagi integritas. Kritik objektif adalah suplemen terbaik agar Antam tidak terjebak di lubang yang sama,” pungkas Romadhon Jasn.


Komentar