THEREPUBLIKA.ID, JAKARTA – Momen suci Idulfitri yang seharusnya menjadi ajang mempererat silaturahmi justru dinodai oleh syahwat politik kekuasaan. Acara Halal Bihalal yang digelar sejumlah pengamat di Utan Kayu, Jakarta Timur, pada 31 Maret 2026, berubah menjadi panggung provokasi setelah pendiri SMRC, Saiful Mujani, secara terbuka menyerukan konsolidasi kekuatan untuk “menjatuhkan” Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan Saiful yang menyebut jalur konstitusional (impeachment) tidak lagi efektif dan mengajak jalur ekstra-parlementer, langsung memicu gelombang kritik pedas dari masyarakat luas. Bukannya mendapat simpati, seruan tersebut justru menjadi bahan cemoohan netizen yang menilai kelompok tersebut sedang mengalami “frustrasi politik” yang akut karena kehilangan panggung legal di tengah kuatnya legitimasi pemerintah saat ini.
Respon keras publik menunjukkan bahwa masyarakat saat ini sudah jauh lebih cerdas dalam membedakan antara kritik konstruktif dan provokasi murahan yang dibungkus label akademis. Rakyat tidak lagi mudah tergiur oleh narasi chaos yang ditawarkan oleh elit-elit yang merasa tidak dilibatkan dalam gerbong pembangunan nasional. “Halal bihalal kok isinya ajak jatuhkan presiden? Ini bukan silaturahmi, ini provokasi gerombolan elit yang gagal baca suasana hati rakyat,” tegas Romadhon Jasn, Aktivis Nusantara, Minggu (5/4/2026) di Jakarta.
Ironisnya, syahwat politik ini tidak hanya ditampilkan oleh Saiful Mujani sendirian. Kehadiran tokoh-tokoh seperti pakar hukum Feri Amsari, pengamat Islah Bahrawi, hingga intelektual Sukidi dalam panggung yang sama mempertegas kesan adanya desain besar dari kelompok Utan Kayu untuk menciptakan instabilitas. Publik melihat bergabungnya nama-nama ini sebagai upaya membangun opini negatif yang sistematis terhadap kepemimpinan nasional yang sedang bekerja.
Secara sosiologis, fenomena ini mencerminkan adanya jarak yang lebar antara kegelisahan kelompok elit di Utan Kayu dengan realitas aspirasi di akar rumput. Di saat mereka sibuk mengatur siasat di meja makan, masyarakat justru sedang menikmati hasil nyata dari program-program prioritas pemerintah yang mulai terasa dampaknya secara merata, mulai dari ketahanan pangan, hilirisasi, hingga penguatan sektor pertahanan.
Kritik balik ini menjadi cerminan bahwa narasi penggulingan kekuasaan sama sekali tidak memiliki pijakan di hati rakyat yang menginginkan kedamaian dan kemajuan ekonomi. Rakyat ingin fokus bekerja, bukan justru diajak berpolemik tanpa dasar yang jelas oleh kelompok yang kalah secara terhormat namun terus mencoba memancing di air keruh. “Rakyat sudah muak dengan cara-cara lama yang hanya bikin gaduh dan merusak suasana kemenangan Idulfitri,” ujar Romadhon Jasn dalam unggahan yang mendapat ribuan dukungan.
Ketidaksolidan dukungan terhadap gerakan tersebut kian nyata saat narasi “impeachment” ini justru berbalik menjadi bumerang bagi kredibilitas personal Feri Amsari, Islah Bahrawi, maupun Sukidi. Publik kini mempertanyakan sejauh mana independensi intelektual mereka, yang ternyata terlihat bias dan lebih didorong oleh motif ketidakpuasan politik sesaat daripada substansi hukum atau kenegaraan yang murni dan objektif.
Di sisi lain, ketenangan pihak Istana dan soliditas barisan pendukung pemerintah dalam merespons polemik ini justru kian mempertebal kepercayaan publik. Pemerintah tetap menunjukkan kelasnya dengan fokus pada agenda kemandirian nasional, seolah menegaskan bahwa kebisingan di Utan Kayu hanyalah riak kecil dari sekumpulan orang yang kehilangan relevansi massanya di hadapan jutaan rakyat pendukung pemerintah.
Kematangan kepemimpinan nasional dalam menjaga kondusivitas politik terbukti mampu meredam setiap upaya adu domba yang dilancarkan kelompok oposisi jalanan. Publik melihat bahwa kerja nyata dan pengabdian kepada negara jauh lebih berharga daripada teori-teori politik yang bersifat memecah belah dan tidak mendidik martabat bangsa. “Jangan rusak suasana damai ini dengan agenda tersembunyi; rakyat ingin maju bersama pemerintah, bukan dihasut untuk chaos,” tegas Romadhon Jasn.
Sebagai kesimpulan, narasi yang dibangun gerombolan Utan Kayu telah layu sebelum berkembang karena ditolak mentah-mentah oleh akal sehat publik di media sosial maupun lapangan. Masyarakat Indonesia kini telah bermigrasi menjadi pemilih yang sangat rasional, yang lebih menghargai keberlanjutan pembangunan dan martabat bangsa di mata dunia daripada sekadar mengikuti ambisi segelintir elit yang sedang dilanda rasa frustrasi massal.


Komentar