THEREPUBLIKA.ID, JAKARTA,- Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji meninjau pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) di SLB Negeri 2 Jakarta, Jagakarsa, Senin (13/7). Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mengembalikan peran ayah dalam pengasuhan anak, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus.
Wihaji menyampaikan bahwa GAMAS bukan sekadar acara seremonial. Menurut dia, gerakan ini memiliki makna mendalam bagi tumbuh kembang anak, terutama pada masa-masa awal memasuki dunia pendidikan. “Anak mungkin akan lupa pelajaran pertama yang diterimanya. Tetapi mereka akan selalu mengingat siapa yang menggenggam tangannya saat memasuki gerbang sekolah,” ujar Wihaji di hadapan orang tua dan guru SLB Negeri 2 Jakarta.
Pemilihan lokasi di SLB, kata Wihaji, untuk menegaskan bahwa anak-anak penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian dan pendampingan dari orang tua. Ia menilai selama ini kelompok ini kerap luput dari perhatian kebijakan publik, termasuk dalam program pengasuhan.
Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, mengapresiasi langkah Wihaji yang memilih SLB sebagai lokasi utama GAMAS. Menurutnya, keputusan ini mencerminkan kepedulian pemerintah terhadap anak berkebutuhan khusus yang sering terabaikan. “Kunjungan Menteri Wihaji ke SLB membawa pesan bahwa negara hadir untuk semua anak, tanpa kecuali. Ini langkah yang patut diapresiasi,” ujar Romadhon, kepada awak media.
Wihaji mengungkapkan data Pendataan Keluarga (PK) 2025 yang menunjukkan sekitar 25,8 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless, yakni tumbuh tanpa keterlibatan ayah dalam pengasuhan meskipun sang ayah masih hidup. Ia menyebut fenomena ini sebagai darurat pengasuhan yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.
Untuk mendukung gerakan ini, Wihaji telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 17 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar) dan Gerakan Ayah Mengantar Sekolah (Gamas) yang diterapkan di seluruh sekolah Indonesia. Ia juga memastikan para ayah yang mengantar anak mendapat dispensasi dari instansi masing-masing agar tidak dirugikan secara administratif.
Romadhon menyoroti pentingnya keberlanjutan program seperti GAMAS. Menurutnya, gerakan ini tidak boleh berhenti pada agenda tahunan, tetapi harus menjadi budaya baru dalam pola asuh keluarga Indonesia. “Kehadiran ayah di momen-momen penting anak bukan hanya soal antarkan ke sekolah, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan kedekatan emosional yang bertahan seumur hidup,” kata Romadhon.
Wihaji juga mengingatkan tentang bahaya penggantian peran orang tua oleh gawai. Ia menyebutkan anak-anak kini menghabiskan delapan hingga sepuluh jam per hari dengan ponsel. “Waktu ngobrol ayah dengan anak tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi maupun kecerdasan buatan. Teknologi seharusnya menjadi alat yang melayani manusia, bukan mengendalikan manusia,” tegasnya.
Menteri Wihaji juga mendengar keluhan orang tua soal lapangan kerja bagi lulusan SLB. “Kami berharap program GAMAS dapat terus bergulir dan berdampak luas. Kehadiran ayah adalah investasi jangka panjang bagi masa depan anak-anak kita,” tutup Romadhon.


Komentar