THEREPUBLIKA.ID, JAKARTA- Gelombang respons positif mengalir dari berbagai kalangan masyarakat dan anak muda atas sikap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang terbuka terhadap inisiatif Kabinet Bayangan bentukan masyarakat sipil. Pernyataan dari RKIH Muda, Romadhon, menilai bahwa sambutan hangat publik ini menunjukkan adanya kematangan demokrasi dan harapan besar terhadap kepemimpinan yang mendengar.
“Di media sosial dan ruang publik, banyak anak muda yang menyambut baik pernyataan Gibran. Mereka melihat ini sebagai angin segar, pemimpin yang tidak alergi kritik, justru membuka ruang seluas-luasnya untuk pengawasan,” ujar Romadhon, Rabu (29/7).
Gibran sebelumnya menyatakan hormatnya terhadap setiap bentuk partisipasi masyarakat, termasuk kabinet bayangan. Ia menegaskan bahwa dalam negara demokrasi, setiap warga negara berhak menyampaikan pendapat, memberikan kritik, dan ikut mengawal jalannya pemerintahan selama disampaikan secara objektif, berbasis data, dan berorientasi solusi.
“Publik dan generasi muda Indonesia sudah lelah dengan pemimpin yang sibuk membungkam kritik. Gibran justru menunjukkan sikap sebaliknya. Itu sebabnya pernyataannya mendapat perhatian luas dari anak-anak muda yang selama ini vokal mengawal kebijakan pemerintah,” tambah Romadhon.
Romadhon menyoroti bahwa Kabinet Bayangan bukanlah ancaman, melainkan cermin bagi pemerintah untuk introspeksi dan melompat lebih tinggi. Ia menilai Gibran telah membaca kebutuhan zaman: bahwa pemerintahan yang kuat adalah yang mampu berdialog dengan publik, bukan yang hanya mendengarkan gema dari dalam istana.
“Anak muda tidak ingin jadi penonton. Mereka ingin dilibatkan. Gibran memahami itu. Dengan menghormati kabinet bayangan, ia memberi sinyal bahwa suara publik diperhitungkan,” ujarnya.
Bahkan di kalangan akademisi dan pegiat sipil, sikap Gibran ini dinilai sebagai langkah maju dalam membangun kepercayaan publik. Kabinet bayangan, yang selama ini sering dianggap sebagai bentuk resistensi, kini mulai dilihat sebagai ruang kolaborasi yang konstruktif untuk memperbaiki tata kelola negara.
“Yang menarik, publik tidak hanya diam. Mereka mulai berdiskusi, memberi masukan, bahkan mengkritisi kebijakan dengan lebih terstruktur. Ini pertanda demokrasi kita sedang bergerak ke arah yang lebih sehat,” kata Romadhon.
Namun, RKIH Muda juga mengingatkan agar Kabinet Bayangan tetap menjaga kredibilitasnya dengan menyampaikan kajian yang berbasis data dan solutif. Dengan begitu, ia tidak hanya menjadi alat kritik, melainkan mitra strategis yang memperkuat tata kelola pemerintahan.
“Gibran telah memberi contoh. Sekarang giliran publik, anak muda, dan masyarakat sipil untuk menjaga kualitas demokrasi dengan kritik yang cerdas dan membangun. Itulah demokrasi yang matang dan bermanfaat bagi semua,” pungkas Romadhon.


Komentar